Ready to go ~.*

Menjelang lebaran, saya harus menyiapkan meeting di Hotel Mulia-Jakarta.  Dimulai dari arrange tempat, set up ruangan meeting, menyiapkan meeting tools, merancang undangan, mengirim undangan, meminta kepastian kehadiran , menyusun bahan presentasi yang bahannya terdiri dari laporan semua divisi dan cabang perusahaan di seluruh Indonesia, dan sebagainya.  Ketika harinya tiba, saya tiba lebih awal, berkoordinasi dengan pihak hotel, memeriksa ulang segala yang di butuhkan. Memeriksa semua laporan yang dibutuhkan, latihan presentasi, dan sebagainya.  Meeting diakhiri dengan Dinner,dan para undangan kemudian memberikan ucapan selamat atas suksesnya meeting ini kepada atasan saya, Mr W bukan kepada saya.

Ketika saya membaca Amsal 31:10-31, tiba-tiba saja saya teringat peristiwa itu. Karena satu alasan tertentu akhir-akhir ini saya menggumulkan kata “tunduk”.  Lebih tepatnya istri yang tunduk kepada suami dan “istri yang menjadi penolong”.  Menjadi gelisah memikirkan akankah “kemandirian” saya akan membuat saya menjadi “dominan”?.

Peristiwa di atas sangat menolong saya melihat dan mendalami Amsal 31 secara utuh. Saya bekerja sebagai Personal Assistant, pekerjaaan yang saya lakukan adalah pekerjaan yang saya lakukan dan putuskan sendiri ( tidak dengan team) walaupun saya memiliki staff lain yang bertugas membantu saya dalam beberapa kasus,  di sisi lain ketika membutuhkan data memang saya akan meminta data dengan department terkait, tetapi dalam pegolahan datanya,saya mengerjakan sendiri.  Pekerjaan rutin yaitu membuat report : weekly,biweekly,monthly, saya kerjakan tanpa menunggu “order” dari atasan, tetapi tetap membutuhkan persetujuannya sebelum report ini di publish ke semua department dan DC satelite dan kantor-kantor cabang.  Saya bisa melihat fungsi perempuan sebagai “penolong” disini menjadi lebih konkret.  Sebetulnya tanpa saya “atasan” saya bisa melakukan semua, tetapi membutuhkan waktu lebih lama,dan lebih ribet bukan? dia “membutuhkan” saya untuk menolong nya.  Ketika semuanya siap, dia (yang sudah mempersiapkan diri dengan baik) memimpin meeting itu, diskusi bisnis, dll dengan baik.  Energinya tidak habis terkuras untuk mempersiapkan “pendukung” meeting itu, tetapi bisa maksimal memikirkan materi meetingnya. Bayangkan jika dia masih harus hubungi hotel, menyiapkan undangan, mengatur menu, set up ruangan meeting sehingga ruangan nya efektif untuk diskusi, menyiapkan meeting tools, bikin checklistnya, konfirmasi undangan, konesksi internet diruangan meeting, memeriksa semua laporan dan menuangkannya dalam mode presentasi,dlsb disaat yang sama dia harus mempelajari materi meeting, Bisa nggak? bisa sih, tapi nggak maksimal.  Let say, waktunya sama sama 1 jam untuk persiapan.

a. satu jam, menyiapkan tetek bengek “pendukung” meeting  sembari memperlajari materi meeting, menyiapkan strategi dll,

b. satu jam, khusus mempersiapkan diri , mempelajari materi meetingnya, tidur bentar kali biar seger.

hasilnya pasti akan lebih baik yang B kan…

Kok enak banget ya para pria? bossy banget? kita perempuan yang kerja, dia yang dapet nama?

Nggak gitu juga sih,

Perempuan juga jadi berhasil ketika mengantar pria menjadi sukses ( kalau sudah berkeluarga, ya menjadikan keluarga sukses, sukses CINTA TUHAN, sukses jadi kepala keluarga, sukses jadi papa, dan sukses dalam segala hal lah)

Tapi kan nggak jadi terkenal.

Hehehe kita dipanggil bukan untuk menjadi terkenal kok.Tapi menjadi partner, menjadi “penolong” .(menjadi ibu juga panggilan 😀 )

Amsal 31:10-21

Epilogue: The Wife of Noble Character

10 [b]A wife of noble character who can find?
She is worth far more than rubies.

(10) Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya?

Ia lebih berharga dari pada permata.

Batu permata itu kan asalnya dari arang di proses di perut bumi sedemikian sampe akhirnya jadi batu berharga.  Pemrosesannya gak berhenti sampe disitu, setelah di temuin, ia harus di proses lagi sehingga menjadi batu permata yang cantik, berharga dan bernilai jual tinggi.

Penulis Amsal “menghargai”  istri yang cakap lebih dari permata.

Wow…

Perempuan lajang : mari kita nikmati proses-proses didalam hidup kita untuk bersiap diri didalam panggilan menjadi “penolong. ~.* Wink

Para Istri: Nikmatilah perannya menjadi penolong yang tunduk pada suami ^^

11 Her husband has full confidence in her
and lacks nothing of value.
12 She brings him good, not harm,
all the days of her life.
13 She selects wool and flax
and works with eager hands.
14 She is like the merchant ships,
bringing her food from afar.
15 She gets up while it is still night;
she provides food for her family
and portions for her female servants.
16 She considers a field and buys it;
out of her earnings she plants a vineyard.
17 She sets about her work vigorously;
her arms are strong for her tasks.
18 She sees that her trading is profitable,
and her lamp does not go out at night.
19 In her hand she holds the distaff
and grasps the spindle with her fingers.
20 She opens her arms to the poor
and extends her hands to the needy.
21 When it snows, she has no fear for her household;
for all of them are clothed in scarlet.
22 She makes coverings for her bed;
she is clothed in fine linen and purple.
23 Her husband is respected at the city gate,
where he takes his seat among the elders of the land.
24 She makes linen garments and sells them,
and supplies the merchants with sashes.
25 She is clothed with strength and dignity;
she can laugh at the days to come.
26 She speaks with wisdom,
and faithful instruction is on her tongue.
27 She watches over the affairs of her household
and does not eat the bread of idleness.
28 Her children arise and call her blessed;
her husband also, and he praises her:
29 “Many women do noble things,
but you surpass them all.”
30 Charm is deceptive, and beauty is fleeting;
but a woman who fears the LORD is to be praised.
31 Honor her for all that her hands have done,
and let her works bring her praise at the city gate.

Mudah-mudah saya punya cukup waktu dan dapet inspirasi lagi menuangkan hasil penggalian mazmur ini disini. Promise you, tapi gak sekarang ya … 🙂

Jadi perlu gak sih kita memiliki “keahlian”  “ketrampilan” sebagai perempuan?

Menurut saya sih iya

Di ruang operasi biasanya ada orang yang bagiannya memberikan pisau”, entah dia nurse atau dokter, dia harus punya keahlian itu, “untuk menolong”dokternya, kalau dia salah kasih pisau, atau dosis anestesi, bisa gawat urusan.  Untuk tahu anestesi dosis berapa yang harus di berikan, pisau mana yang akan di gunakan, dia harus mempunyai keahlian itu.

Kita perempuan malah wajib rasanya menyiapkan diri untuk itu.  Tapi jangan sampai “keistimewaan” menjadikan kita merasa hebat dan malah memiliki sikap dominan.  Keistimewaan-keistimewaan yang kita punya (yang adalah GIFT-anugerah) dimaksimalkan untuk “mendukung”, “menolong” partner mencapai tujuan yang diinginkan TUHAN. oohhh indahnya. ( gak semudah seperti membalikan telapak tangan lho, ada proses-proses di dalamnya, yang mungkin sakit, perih, tapi ada juga sukacitanya, seperti proses pembentukan yang sudah TUHAN lakukan sekarang di dalam hidup kita )

Seperti Debora.  Seorang perempuan yang berani mengembangkan diri sesuai karunia dan panggilannya, tapi pasa saat yang sama ia tetap sadar dengan status dan perannya sebagai istri lapidot.  Ada banyak contoh lain di dalam alkitab. Termasuk perempuan yg digambarkan didalam Amsal ini.  Indah ya…

Ready to go ~.*

Catatan “RKL”

Iklan
Dipublikasi di Renungan | 2 Komentar

menikmatiMU dalam keterbatasanku

Menyapa ku dalam ziarah pagi ini

Aku rasai kasih-MU

Aku rasai keberadaan-MU

Aku sadari keadilan-MU

Memberikan pengaharapan dan kekuatan dalam gelisahku

Menikmati dalam  metafora ziarah diujung pagi.

Bersamaan dengan  SANG SURYA yang semakin tegas memancar

Merasakan kehangatan dalam belaian kasih  dalam cahaya sabda-MU

Sabda mencahaya luruh di dalam tubuh sementara ini,

Sabda menerangi hati menuntun kemana langkah ini terayun

Hatiku bergejolak menikmati kebesaran-NYA, menikmati keberadaan-NYA

Jiwaku gentar memahami Kekuasaan-NYA, keadilan-NYA, keagungan-NYA

Dalam gigil yang sangat menahan debar detak jantung

yang semakin bertalu-talu memantul dari hati dan hadir-NYA yang bertautan

Hatiku memuji muji DIA, jiwa meluapkan sukacita keabadian-NYA menjadi untaian doa di ujung lidah

Terucap dari sanubari:

”menikmatiMU dalam keterbatasanku, terpesona melihat Keagugan MU.”

Di antara beribu kepak sayap-sayap malaikat menyentuh hatiku.

Aku rasai hatiku dipenuhi cinta kepada-MU SANG FIRMAN

semakin dalam kurasai cinta ini, kupersembahkan hati ini

Aku dipuaskan oleh FIRMAN-MU

Aku ingin memuaskan-MU di dalam keterbatasanku

Memberitakan KASIH-MU bagi ciptaanMU

-Catatan “RKL”-

Dipublikasi di Renungan | 2 Komentar

Murid yang dikasihiNYA

Salibkan dia, salibkan dia.

Teriakan itu menggema  mengalahkan dengungan lebah, ramai sekali, di sepanjang jalan menuju bukit Golgota.

Aku melihat murid yang dikasihi-NYA, menyelinap diantara demonstran, memerhatikan dia  memikul salib.

Bung  murid yang dikasihi dia kan?

Dia diam saja, mukanya berduka.

Dia belum sempat beristirahat kan?

Setelah rangkaian pelayanan yang dilakukan, makan paskah, berdoa ditaman, sekarang di tangkap.  Dipukuli, dicambuk, dipakaikan mahkota duri. dia pasti kehabisan tenaga, darah nya bercampur keringat bercucuran, mungkin juga pusing, kurang tidur, haus terlalu banyak cairan tubuh keluar.

Brukk.

Hei bung, lihat,dia jatuh.nampaknya tidak sanggup lagi menopang salib itu ,mari kita tolong.

Bukan itu yang diingikannya.

Setidaknya kita laporkan ke kaisar dia tidak bersalah.

Dia terbukti tidak bersalah Pak Pilatus,ibu Claudia setuju dia tidak bersalah.

Ayo bung kita lakukan sesuatu jangan nangis terus. Nangis gak akan menyelesaikan masalah.

Kita buat laporan dengan bukti pernyataan-pernyataan yang menyatakan dia tidak bersalah.

Bukan itu yang diinginkannya.

Keji sekali, dipaku seperti itu. tapi hebat ya ,tidak tidur, di siksa, berdarah, menanggung derita sedemikian hebat, bergumul dengan rasa sakit, tapi masih bertahan hidup.

Yoh 19 : 26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’

Bung, dia bicara padamu.

Lukas 23:46

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

Murid yang di kasihiNYA itu berkata :

Dia TUHAN.Penuh cinta kasih, Karena CINTA,karena KASIH,dia mengorbankan diriNYA ganti kita.ganti kamu dan saya.Saya akan memberitakan KASIHNYA.Menyaksikan kebaikanNYA .ini yang diinginkanNYA. Memberitakan ketidak taatan manusia,kejatuhan manusia didalam dosa,terhapus, dibayar lunas,dengan karya keselamatan ini.

  • Dia Pemberi hidup yang kekal (Yohanes 10:27);
  • Dia roti hidup (Yohanes 6:35,51 – suatu pernyataan kembali yang terang-terangan atas manna yang pernah diberikan Allah dari surga dalam Yohanes 6:32-35);
  • Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup (14:6);
  • Dia adalah terang dunia (8:12);
  • Dia yang berasal dari Bapa (8:23-24).
  • DIA yang harus menerima hormat yang sama dengan yang anda berikan kepada Bapa (Yohanes 5:23);
  • DIA tahu segala sesuatu (Yohanes 21:17 – sesuatu yang hanya Allah yang dapat melakukannya).

Saya pun tersungkur di bawah kaki salibNYA.

Saya akan menceritakan pengorbanan-NYA.saya akan mengumandangkan KASIH-NYA,Memberitakan karya keselamatan bagi manusia yang di cipta istimewa. Sebab Dialah CINTA ,saya di CINTA-NYA,saya akan memberitakan CINTA-NYA.

Note : percakapan imajiner dengan murid yang dikasihi-NYA

Worthy of worship

Worthy of praise

Worthy of honor and glory

Worthy of  all the glad songs we can sing

Worthy of all of the offering we bring

YOU are worthy, Father creator

You are worthy savior sustainer

You are worthy, worthy and wonderful

Worthy of worship and praise

 

Catatan “RKL”

Dipublikasi di Renungan | Meninggalkan komentar

Seperti gerimis di bulan November

Gerimis di bulan November seumpama janji yang selalu ditepati.  Ia datang lagi.

Di Bukit Hermon kala itu, gerimis datang dibarengi nyanyian kodok dan suara air sungai ditingkahi gemerisik dedaunan akibat angin kencang.  Musim penghujan menghadirkan instrumentalia alam raya mendatangkan kesejukan jiwa.

 

Dan aku menyesap teh melati dengan imaji keberadaanmu,

 

Seperti biasa, kita bercengkerama, membicarakan ini dan itu. Walau telah larut, belum usai perbincangan kita.  Kursi-kursi telah diangkuti, tinggal kursi yang kita duduki.  Kita masih saja berbicara.  Gerimis menjadi alasan untuk tidak beranjak.  Aku menatapmu persis seorang bayi menatap mata ibunya

 

Entah bagaimana awalnya, obrolan malam gerimis waktu itu.  Kita bicara tentang keberadaanmu dan selalu begitu.  Aku menatapmu seperti seorang bayi menatap mata ibunya dan selalu begitu.

 

Manusia dilahirkan dengan perasaan itu.  Dengan kasih.  Salah satu keserupaan dengan pencipta-Nya.  Sifat Kasih dari sang pencipta ada di dalam dirinya.  Entah bagaimana kembara kasih itu tidak bisa beranjak seolah terpaut pada dirimu.

 

Seorang ibu, karena lepra, tangannya tidak bisa terbuka.  Demi cinta untuk anak-anaknya ia tetap berusaha bekerja.  Demi cinta untuk ketiga anaknya, ia merasa sakit ketika mengalami keterbasan bekerja.

 

Seorang ayah, masih mengantar kelima anaknya bolak-balik ke sekolah, dengan jantung yang telah membengkak akibat diabet.  Karena cinta.

 

Cerita cinta dari parit-parit, ketika seorang suster, turun dari kemegahan gedung gereja, menggelar Koran, lantas bercengkerama disekitaran parit.  Terdengar gelak tawa anak-anak kecil ketika temannya salah mengeja huruf-huruf.  Gelak tawa bahagia karena cinta yang tulus disuguhkan dari hati seorang suster.

 

Seperti gerimis di bulan November yang selalu hadir, cinta selalu ada dalam hati manusia.  Seperti darah yang tidak bisa tidak ada dalam diri manusia, pula cinta tertanam dalam hati manusia.  Dan aku mengingatmu karena cinta, dan selalu begitu.

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Taman depan bangsal

Di taman depan bangsal itu,

Duduk berkerumun orang-orang, bahasa kecemasan terungkap satu persatu

Di taman depan bangsal itu,

Anak-anak berlarian disekitaran kolam ikan, berteriak, tertawa, bahasa gembira tertuang.

Mereka tidak mengerti sembab dimata neneknya adalah karena rupiah yang dipikirkan untuk menebus obat dan  infuse yang mengaliri tubuh ibunya.

Mereka belum bisa  merasakan kerutan di dahi ayahnya adalah kwitansi yang harus segera dilunasi.

Di Taman depan bangsal itu,

Dia mendengarkan uraian keputusasaan demi keputusasaan

Menanggapi dengan prihatin dan empati

Menawarkan sekiranya mau mendengar jawaban dari keputusasaan

Cerita mengenai Tabib Ajaib, yang mengasihi

Mengajak mereka bercerita, mengungkapkan kepenatan kepada Tabib Ajaib yang ada dan nyata, yang tidak pernah tidur.

“Makanlah bu. kubeli tadi di kantin depan sana. Ibu itu menerima dengan binar bahagia. Dan ini air jahe aku mengangsurkan satu termos, mari kita berbagi.” Dengan cekatan dia membagi-bagikan kepada mereka. Tabib ajaib yang kuceritakan tadi, dapat mengenyangkan keputusasaan, kesedihan, kepenatan ibu sekalian dengan kedamaian. Bagaimana kalau kita berterimakasih kepada-Nya sebelum menikmati makanan ini. 

Di Taman depan bangsal itu,

Isak tangis-sedu sedan mengalir ditengah untaian doa-doa itu. 

“Menangislah bu, TABIB AJAIB itu menawarkan kelegaan.  Marilah kepada-KU semua yang letih lesu dan berbeban berat, AKU akan memberi kelegaan kepadamu.  Isaknya malah bertambah deras.  Mereka berpelukan, dia, ibu itu, bapak renta itu, serta kerumunan.  Tabib Ajaib itu mengasihi sederek sedoyo(saudara sekalian).. Hati mereka berpautan pada seri lazuardi.  Angin semilir membuat dedaunan menari lembut. Pengakuan bahwa pertalian kasih, kesadaran akan campur tangan sang Tabib membangkitkan kekaguman .  Kagum, tunduk, gentar kepada Tabib yang Ajaib.

 

 

Di Taman depan bangsal itu,

Dia menundukkan diri kepada-Nya.  Ketika hatinya bertautan dengan pemilik-Nya itu, serta merta dia membisikkan kata, Terima kasih ya Tabib yang ajaib.  Untuk kelegaan dan harapan yang pasti dari-Mu untuk mereka.

Di dalam bangsal, dekat taman itu

Ibunya terbaring.  Dengan infuse di tangan kanannya, oksigen, dan penunjang kesehatan lainnya.

Dia berkata kepada Tabib Ajaib, Terima kasih untuk memberiku pengalaman, ENGKAU tidak meninggalkan ku sendirian.

Di dalam bangsal, dekat taman itu.

Semakin mengenal dan mengasihi sang Tabib Ajaib.

 

Catatan *Rkl*

Dipublikasi di Renungan | Meninggalkan komentar

Hi…

Hi, aku melihatmu

Matamu,….

Dirimu,….

Keberadaanmu,….

Aku melihat semuanya dalam imajiku

 

Kemudian angin bertanya kepadaku :

Apakah kamu merindukannya

Aku diam

Angin bertanya  kepadaku lagi

Apakah kamu merindukannya?

Ahhhh  entahlah

Jadi kamu merindukannya

Aahhhh aku tidak tahu, mungkin memang iya

Aahhh bahkan sekarang ini aku sangat mengasihinya

…….

Hi, kamu

Langit mengelabu sore ini

Aku di dalam kelas

Tetapi aku melihatmu di dalam setiap kata-kata

Aku melihatmu

Aaahhh aku melihatmu

Dalam imajiku

 

Sepuluh Januari 2013

Catatan *RKL*

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

dia dan Dia

Manusia : Hatinya, Jiwanya

 

Manusia : Lakunya, Pikirannya

 

Kata-NYA

ingat lah ! Asalmu, Kasih-KU,

Lakukanlah! Mau-KU,

 

Manusia :

seperti apapun

walaunya

jikanya

namunnya

tapinya

 

Kata-Nya :

ingat lah ! jiwamu berharga

Ketahuilah ! Kasih-KU cukup bagimu

DIA :

Kasih-NYA, Kuasa-NYA, Keadilan-NYA

Mengenal-NYA, menjadikan-NYA pusat hidupmu, sandaranmu, pusat orbitmu

Mengenal Cinta-NYA : mengangkat jiwamu,

Mengenal kebesaranNYA :

 

elektron

bulan

bumi

matahari

bima sakti

Kosmos, Teratur, tepat.

Bunga, Gunung, Lautan, Senja, Fajar, Kupu-kupu cantik, Burung mungil, Satwa Liar aneka rupa, Semuanya, indah, harmoninya sempurna.

Indah, Ajaib, Agung, Mulia, melampaui segala alam pikir

 

 

Keadilan-NYA pasti ,  cari mau-NYA, lakukan dengan setia, Taat kehendakNYA

Kekudusan-NYA sempurna à hiduplah kudus dihadapanNYA

Kasih-NYA ajaib bersyukurlah, takutlah akan DIA, persembahkan hidupmu untuk melakukan kehendakNYA

 

Catatan RKL

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Indahnya Natal dihatiku

SEPERTI PALUNGAN

LAYAKKANLAH HATIKU MENYAMBUT-MU TUHAN

 

SEPERTI EMAS KEMENYAN DAN MUR

BIAR HIDUPKU BERKENAN PADA-MU

 

 

SEBAB NATAL TAK AKAN BERARTI TANPA KASIH-MU

LAHIR DI HATIKU

HANYA BERSAMA-MU YESUS KURASAKAN SELALU

INDAHNYA NATAL DI HATIKU

 

Aku bangun cepat-cepat.  Membelalakkan mata agar ia tak kembali terpejam.  Kubangunkan dia yang tertidur disampingku. Tak seperti biasa, segera beranjak dari tidur yang melena.  Setelah menghabiskan malam hingga pagi menjelang di dalam kembara cinta-NYA. Di tengah kesibukan memperingati kedatangan sang Gusti , kami , aku dan dia, mengembara di belantara kota, mengambil bagian memperingati kedatangan sang Gusti.

 

Ibukota dipadati gedung-gedung tinggi, mobil lalu lalang, asap kendaraan bertebaran, pagi yang riuh. Wajah-wajah saling berjejal memadati jalanan. Mereka bergegas untuk segera sampai, menuju arah masing-masing. Seolah tak memperhatikan tanda dan petunjuk  jalan sepanjang yang mereka lewati.  Diantara mereka kudapati wajah-wajah kecil itu, yang dulu sempat kuakrabi, mereka tertawa menyambutku, binar-binar bahagia terpancar tulus dari hati yang dipenuhi cinta kepadaku. Hatiku bergembira mendapat sambutan sedemikian rupa, lantas membisikan ucapan syukur bahagia. Terimalah ungkapan syukurku, Gusti.

 

Dibawah teriknya matahari yang menggigit, kami berjalan, berkumpul di pinggiran jalan, berpindah dari satu tempat ketempat yang lain guna mengingat kehadiran sang Juruselamat yang kelahirannya sudah dan akan diperingati oleh pengikut-Nya di jagad raya ini. Cara kami memperingatinya sederhana, bercakap-cakap, bersukacita, bernostalgia, sangat indah.Sungguh indah.

 

Palungan apaan sih kak?

 

Tempat taro makanan binatang

 

Dikandang binatang dong?

 

Iya adanya dikandang binantang.

 

kayak yang waktu itu kita kekebun binatang itu?

 

Bukan, ini bener-bener kandang. Lalu kutunjukkan gambar kandang dan palunggannya.

 

Kotor mana sama jalanan kak.

 

 

 

Rasanya kotor palungan ya, karena bekas makanan binatang. Kalau jalanannya becek, mungkin sama.

 

Dia masih ingin terus bertanya, matanya penuh dengan gairah dan ingin segera melahap keingintahuannya.

 

Bau mana kak sama dijalanan

 

 

 

Mungkin sama, kalau pas kalinya mampet dan bau sekali.

 

Kok lahir dikandang sih?

 

Dia datang kepada milik kepunyaanNya. tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimanya” (Yohanes 1:10, 11)

 

 

Matanya berkaca-kaca, lantas butiran airmata mengalir darinya.

 

 

 

Kenapa menangis?

 

Sedih kak, soalnya nasibnya Tuhan sama kayak aku.

 

Aku tersenyum

 

Bukan nasib, Dia memang mau melakukan hal itu :

 

Dia yang mencipta dunia dan segala isinya, lahir dengan cara hina dikandang yang kotor

Dia yang tidak terbatas ( tidak dibatasi daging,ruang,waktu,dll) , menjadi terbatas

Dia yang Agung,Mulia,Sumber Hikmat,Sumber kebaikan,sumber pengetahuan, mati dengan cara hina, Disalib di Golgota.

 

Oleh sebab Dia cinta kamu dan saya, Dia mengasihimu dan saya, Dia mengasihi ciptaanNya.

 

Agar dunia yang hilang diselamatkan, dari hukuman kekal….

 

Dengan terisak dia bertanya,

 

Kapan Tuhan datang lagi kak? aku gak akan tolak. 

 

Saya tidak tahu, tidak ada yang tahu, kita hanya harus berjaga-jaga sampai kedatangan-Nya.

 

Sampai sekarang DIA masih mengasihiku kak?

 

Iya, Dia mengasihi kamu , mengasihi manusia ciptaanNYa yang berharga. Sekarang dia mengirim orang orang yang sudah menerima kasihNYa, mengalami kasihNYA untuk kamu. kamu juga bisa melakukan hal yang sama untuk DIA.

 

Isaknya semakin deras, bahunya terguncang.

 

Kalau begitu aku mau kak. Tapi emangnya Dia mau ya kak? aku nggak pintar, aku nakal, keluargaku berantakan, ada yang penyakitan. rasanya nggak pantes deh kak.

 

Lakukan apa yang menjadi bagianmu, keluargamu , masa lalumu, penyakitmu, akan di “urus” olehNya. Hanya lakukan saja bagianmu. Udang Dia masuk dalam hatimu, membersihkan hatimu yang kotor, dan undang Dia bertahta atas hidupmu.

 

Saya mau ka, ujarnya lirih.

 

 

Kunikmati secangkir teh melati di ujung hari diatas kereta yang akan mengantar kami pulang dari Rimba kota yang membuatku terasing.  Mataku menangkap orang-orang yang masih juga memadati tiap sudut jalan.  Dengan wajah-wajah yang  serius dan terus menatap lurus.  Enggan menoleh, ke kanan dan ke kiri.  Hanya saling mewaspadai. Masih belum sempat saling bertukar nama, apalagi bercengkerama.  Hey…. berhentilah barang sejenak dan duduklah di sini. Nikmatilah secangkir teh melati . Sembari bercengkerama, barangkali kau juga merasakan hal yang sama.  Anugerah sukacita yang baru saja kami nikmati. Aku ingin membaginya dengan mu.

 

_Catatan “RKL”

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sukacita Melayani DIA

Pujilah TUHAN, hai jiwaku Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
Mzm 103 : 1

Yesus…Yesus….Yesus…
dari dalam kelas kami mendengar suara perempuan berteriak dengan tangisan.  Tidak lama kemudian drama penyaliban Kristus kami saksikan dengan hati gentar.  Kisah tentang pengorbanan dan pengampunan yang di kemas dalam drama singkat sangat menyentuh hati.  Setelah tiga minggu sebelumnya kami diajarkan tentang Manusia dicipta sebagai gambar  Allah,  disusul dengan Manusia yang dicipta istimewa dengan Body Part yang proper dan detail, lalu pertemuan ketiga ALLAH memberikan Roh-Nya (ketika mengehembuskan nafas kehidupan yang memungkinkan kita berelasi dengan Allah dalam doa).Dan minggu ke empat, terakhir, cerita tentang Keselamatan melalui Yesus Kristus.

__________________________________________________________

Allah sendiri yang mengutus kami, membagikan kasih-Nya, Ia memimpin kami didalam pembuatan materi, Ia memberikan kasih-Nya untuk kami bagikan,dan Ia sendiri yang bekerja. Ya Allah sendiri bekerja dalam minggu -minggu tersebut, ALLAH mengasihi mereka, mengirim kami untuk memberitakan kabar baik.

Yesus mengetuk hatimu
Yesus mengetuk hatimu

Hai orang berdosa dengarlah

Yesus mengetuk hatimu

 

Menggema di ruangan kelas dengan airmata haru,  mensyukuri anugerah ALLAH yang limpah

ALLAH berkerja dengan caranya yang ajaib untuk menunjukkan kasih-NYA yang limpah untuk manusia ciptaan-NYA.

Kubersukacita kerja bagi DIA
sungguh ku bersukacita

Catatan “RKL”

TERPUJILAH ALLAH!

Dipublikasi di Renungan | Meninggalkan komentar

Indahnya Melayani

Dari Anugerah  ke Anugerah

Indahnya melayani

Saya sempet curhat sama TUHAN tentang kerinduan mengajar kembali.  Dan pada waktu-NYA memberikan pelayanan itu untuk saya ( day by day I love you more LORD 😀 ). Hari itu senin,di Chapel ,sharing tentang kebutuhan guru di SD Berita Hidup yang letaknya ada di pinggiran kota Malang (kalau nggak salah). Tentu saja saya bergabung dengan mereka. Setelah beberapa kali di tunda,pada waktu-NYA kami mendapat kesempatan untuk survey. Minggu berikutnya TUHAN memberi saya kesempatan untuk membuat konsep dan materi 4 pertemuan kelas tambahan di SD Berita Hidup. Syukur kepada ALLAH.Tema I’m Precious, Aku istimewa, boleh diajarkan kepada mereka pada hari I. Sukacita terpancar dari wajah anak-anak.Hatiku limpah ungkapan syukur kepada ALLAH yang mengasihi mereka,dan mengirim kami untuk menjadi perpanjangan tangan ALLAH .

Terima kasih TUHAN

-Catatann “RKL”-

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar